Siapa yang pantas di jadikan pahlawan nasional ?. Mungkin pertanyaan tersebut sekarang menjadi topik pembicaraan yang sedang hangat hangatnya. Sebagai pengingat kembali, kini para tokoh politik sedang sibuk menyiapkan pengajuan beberapa tokoh nasional Indonesia yaitu Soeharto (di ajukan oleh partai Golkar) dan yang belum lama ini telah tiada Abdurrahman Wahid atau yang di kenal dengan Gus Dur (di ajukan oleh partai PKB) untuk di jadikan sebagai pahlawan nasional. Pengajuan ini di lakukan katanya agar penerus bangsa kita bisa lebih menghormati jasa jasa tokoh tokoh nasional sebelumnya.
Namun “drama” pengajuan tokoh tokoh nasional tersebut terkesan hanya bersifat politis saja. Seolah olah tiap partai saling berlomba menunjukkan bahwa tokoh dari partainya lah yang berhak menerima gelar pahlawan nasional.
Memang pengajuan Soeharto sebagai pahlawan nasional jauh hari sudah di lakukan sebelum pengajuan Gus Dur. Namun entah kenapa pengajuan tersebut tidak ada proses kelanjutannya. Nah sekarang Partai Golkar kembali mengajukan Soeharto untuk di jadikan pahlawan nasional…mumpung…Adanya isu Gus Dur yang juga ingin di jadikan sebagai pahlawan nasional.
Dukungan terhadap PKB sekarang memang lebih besar dari pada Golkar, Partai besar lainnya seperti PDIP juga mendukung PKB dalam pengajuan Gus Dur sebagai pahlawan nasional.
Lalu seberapakah pentingkah sebuah gelar pahlawan nasional, toh yang Si di beri gelar tidak dapat merasakan apa apa.
Memang sejarah negara termasuk tokoh tokoh di dalamnya perlu di ingat dan di pelajari oleh penerus bangsanya, agar bisa di jadikan sebagai inspirator dalam membawa negaranya ke kondisi yang lebih baik. Oleh karena itu sejak kecil kita sudah di berikan pendidikan mengenai sejarah Indonesia dari masa kerajaan sampai masa kemerdekaan. Pemberian label pahlawan nasional bertujuan untuk menghormati perjuangan dan jasanya terhadap negara ini. Namun jangan salah, label pahlawan nasional merupakan wujud penilaian semua lapisan masyarakat, bukan penilaian partai, bukan penilaian golongan tertentu atau golongan minoritas. Sehingga perlu kehatian hatian dalam memberikan label pahlawan nasional.
Lalu bagaimana jalan keluarnya, tidak lain tidak bukan buka sejarah selebar lebarnya, seluas luasnya, sedalam dalamnya dan yang terpenting sejujur jurnya. Sebab banyak sejarah kita yang di tulis tidak dalam kondisi sepenuhnya atau hanya menggunakan satu pandangan saja.
Seperti sejarah Gajah Mada, kita hanya mengetahuinya sebagai pemersatu dan pencetus Nusantara. Namun bagi daerah lain Gajah Mada di anggap tidak lebih dari seorang penjajah. Begitu juga dengan kisah Tan Malaka.
Setelah semuanya itu terbuka lebar, jelas dan apa adanya. Biar masyarakat yang menilai, sehingga ada proses pendewasaan untuk masyarakat kita. Yang selama ini di kenal gemar menggunakan tren yang bernama “ikut ikutan”.
Seperti yang sering di katakana oleh Gus Dur semasa hidupnya “Gitu aja repot…”




2 comments:
Setuju bahwa pahlawan nasional merupakan wujud penilaian dari seluruh lapisan masyarakat, bukan partai.
Secara pribadi saya merasa bangga sekali jika akhirnya Gus Dur diberi gelar Pahlawan Nasional. Sekalipun setelah beliau tiada, memang gelar tak berarti apapun bagi yang bersangkutan…, tapi pandangan seorang Gus Dur mengenai perjuangan untuk persatuan&kesatuan Indonesia patut diacungi jempol; bahwa seluruh kalangan, baik mayoritas maupun minoritas, kesemuanya itu adalah bagian dari Indonesia, yang layak untuk diperjuangkan.
Buat Blog
Saya tdk setuju klo Om GAJAH MADA dijadikan sebagai pahlawan nasional. Apa hubungannya GM dan sumpah palapanya dengan NKRI??.. NULL, ga ada sama sekali? lagi pula bukan sumpah palapa yg menyatukan bangsa indonesia, tapi “SUMPAH PEMUDA”. INGAT! “SUMPAH PEMUDA”. KERAJAAN MAJAPAHIT ITU MASA LALU DAN BUKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA. Ini yg menurut saya harus dibedakan dan dipahami.. Jadi tidaklah pantas kalo Om GAJAH MADA menyandang GELAR “PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA. yg pantes tuh “PAHLAWAN MoJoPAHIT”. Bagi saudara2 yg mengakui GM sebagai pahlawan, silaken kembalilah ke masa lalu dan tinggallah di negara mojopahit sono… saya sih ga mau..
Post a Comment